Senin, 02 Februari 2009

Bisakah Orang Indonesia Meraih Nobel?

Judul kolom ini mirip judul buku yang sedikit provokatif yang ditulis Kishore Mahbubani, Can Asians think ? Pertanyaan ini memang terasa merendahkan bagi bangsa-bangsa Asia dan dunia ketiga termasuk Indonesia. Mahbubani sendiri adalah orang Asia. Tetapi paparannya akan membuat orang Asia dan semua orang berpikir lebih baik. Pertanyaan yang sama pantas ditujukan kepada kita bangsa Indonesia yang tengah terpuruk dalam segala bidang. "Bisakah orang Indonesia berpikir ?" Rasanya terlalu "ketus" untuk judul tulisan ini.

Dalam peringatan 100 tahun teori relatifitas Einstein, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar acara Temu Ilmuwan Indonesia Abad 21 tanggal 18 dan 19 November dengan mengundang peraih Nobel Douglas Dean Osheroff dan menghadirkan sekitar 16 ilmuwan Indonesia peraih berbagai macam award. Dikatakan ini merupakan pertemuan peneliti Indonesia paling bergengsi.

Tujuan perhelatan ini adalah untuk memotivasi generasi muda agar bekerja keras untuk mengembangkan sain dan teknologi. Suatu upaya untuk membangun cita-cita bahwa suatu ketika akan lahir Nobel laureate dari Indonesia. Siapa tahu akan tercatat dalam sejarah ?Entah kenapa tema-tema hadiah Nobel seperti first step to Nobel prize begitu marak menjadi tema-tema lomba ilmiah dan pertemuan para peneliti Indonesia akhir-akhir ini. Upaya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang "mampu" di tengah keterpurukan segala bidang ? Tentu saja upaya demikian akan bernilai sangat positif untuk mendorong generasi baru untuk lebih menggeluti dunia ilmu pengetahuan. Hanya saja sepertinya kegiatan seperti ini lebih menonjolkan "selebritas aktor" daripada substansi ilmiah yang ingin dibangun. Bahkan tidak jarang menjadi ajang "bisnis" baru bagi para peneliti kita.

Bagi media pun tingkat "selebritas" lebih menjual daripada substansi ilmiah iptek sebagai solusi permasalahan bangsa. Pertanyaan yang sering muncul adalah kenapa siswa-siswa kita demikian mendominasi perlombaan ilmiah internasional seperti olimpiade ilmiah untuk pelajar SMU, akan tetapi kenyataannya konferensi-konferensi dan jurnal ilmiah internasional begitu sepi dari partisipasi peneliti kita ?

Kompetisi ilmu seperti dalam lomba ilmiah tentu saja lain dengan budaya ilmiah yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menyelesaikan berbagai macam problem masyarakat di berbagai bidang. Yang pertama lebih menonjolkan kemampuan menangkap kisi-kisi dan menjawab soal ujian, sedangkan yang kedua lebih menonjolkan kemampuan serendipitas dan keuletan dalam menekuni proses berpikir ilmiah untuk menyelesaikan persoalan dalam dunia nyata.

Kalau yang pertama tingkat keberhasilannya lebih tergantung pada intensitas latihan dan training, yang kedua sangat tergantung pada karakter pelakunya, latihan tidak banyak membantu. Kedua hal ini sangat berbeda secara mendasar. Oleh karena itu kita sering melihat kenyataan begitu banyak orang yang bagus dalam ujian, tetapi begitu "memble" saat menjadi pemimpin dan terjun di masyarakat. Penerima Nobel di bidang kedokteran tahun 1987 dari Jepang, Susumu Tonegawa menanggapi arahan pemerintah Jepang pada saat itu untuk "memproduksi" sebanyak-banyaknya penerima Nobel baru dari Jepang. Tonegawa menanggapi dengan mengatakan bahwa penemuan setarap hadiah Nobel memerlukan karakter berpikir yang berbeda yang lahir bukan dari latihan sehingga memungkinkan "produksi massal".

Karakter itu tidak lain adalah mental serendipitas. Kata serendipitas berasal dari kata bahasa Inggris serendipity yang berarti mental atau karakter yang bisa merasakan "kenikmatan" yang tidak ternilai harganya saat melakukan penemuan yang tidak terduga-duga. Kenikmatan seperti ini hanya dirasakan oleh orang yang menjadikan hidupnya senantiasa penuh dengan aktifitas berpikir (reasoning) dan dzikir (learning). Srilangka yang berasal dari kata serendipitas dinamai demikian oleh orang Inggris juga berangkat dari jiwa keingintahuan yang besar yang melatari petualangan dunia abad pertengahan.

Orang yang mempunyai jiwa serendipitas adalah orang menjadikan laboratorium (lab) sebagai hidupnya dan hidupnya adalah lab. Lab adalah ajang berpikir dengan segala bentuk dan kondisi fisiknya, tidak terbatas pada lab dalam arti yang sebenarnya. Mental serendipitas digambarkan secara hidup dalam film A Beautiful Mind yang melukiskan kehidupan peraih Nobel John Nash. Pertanyaan "Bisakah orang Indonesia meraih nobel ?" akan kembali kepada pertanyaan yang diajukan oleh Mahbubani, "Bisakah Orang Indonesia Berpikir ?"Berpikir menyelesaikan soal ujian akan sangat berbeda dengan proses berpikir dalam arti sesungguhnya untuk menyelesaikan persoalan hidup. Mental seperti ini hanya akan tumbuh dari didikan alam untuk mandiri dalam menghadapi segala macam tantangan hidup sejak seseorang masih kecil.

Budaya berpikir ilmiah adalah budaya hidup mandiri. Orang yang tidak terbiasa mandiri akan cenderung menempuh jalan short cut. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa "disuapi" dengan layanan baik dari orang lain maupun dari alam di mana dia tinggal. Bagi kita yang terbiasa disuapi sambil bermain ddari sejak kecil, akankah mental mandiri dan ulet bisa tumbuh ? Dari sinilah kita harus melangkah the first step to Nobel prize (Warsito).

Tulisan ini dimuat di www.BeritaIptek.com tanggal 18 November 2005

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Assalamuálaikum wr wb.
Maaf, saya belum membaca seluruh tulisan ini. Tetapi saya sangat yakin Indonesia akan segera membawa nobel..Semua pencapaian Bapak Warsito adalah argumentasi yang sangat kuat untuk optimisme ini..Saya ikut mendoakan...(pujohari.wordpress.com)